Tepat di tengah langit itu..
Seperti ada yang memanggil, tapi..
Yang ada hanyalah bulan sabit satu..
Putih dan menerangi malam ini..
Suatu hari..
Waktu yang bergulir akan datang..
Kenangan dan embun pagi..
Tidak abadi namun merupakan sisa dari musim yang terang..
Gembala memulai perjalanannya..
Tanpa memberitahu siapa pun..
Dari satu bukit ke bukit lainnya..
Dia mulai berjalan pada lereng bukit yang lembut bersama angin..
Dengan hembusan perlahan dan diterangi cahaya..
Dan membunyikan loncengnya..
Di manakah itu.. hari esok??
Di manakah itu.. masa depan??
Dalam hujan maupun badai..
Akan selalu dihadapi..
Bermaksud ke punggungan bukit yang masih jauh..
Menuju ke sana sambil mengiring domba-domba..
Dia tahu bahwa jalanan atau dataran tak akan ada lagi di mana pun..
Hanya dengan sedikit garam dan cinta..
Menghibur dirinya sendiri..
Si gembala tidak bicara..
Bermimpi saja tidak akan akan memberinya makan..
Hanya untuk tetap hidup dia terus berjalan..
Bukit-bukit..
Membaringkan perasaannya pada bumi yang sama..
Kehidupan yang tak bernilai mencoba menjangkau Tuhan..
Doa-doa yang berharap tersampaikan..
Dalam hembusan angin, bersenandung untuk dirinya sendiri..
Lagu cinta seorang pengembara..
Bergema di seluruh bukit-bukit..
Melewati saat-saat yang menyenangkan dalam perjalanan yang membahagiakan ini..
Sejak hari dia dilahirkan..
Hatinya pun mulai mengembara..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar